Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar bagi industri perbankan. Teknologi ini membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat layanan, hingga mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Namun, inovasi tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait perlindungan informasi pribadi dan keamanan sistem digital.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengambil langkah strategis dengan memperkuat standar pengelolaan privasi data dan tata kelola AI. Komitmen tersebut ditandai dengan keberhasilan perusahaan memperoleh dua sertifikasi internasional, yakni ISO 27701:2019 untuk sistem manajemen privasi informasi dan ISO 42001:2023 untuk sistem manajemen kecerdasan buatan.
Pencapaian ini menjadi bagian dari upaya BCA dalam menjaga kepercayaan nasabah di tengah meningkatnya penggunaan layanan perbankan digital. Dalam proses tersebut, David Formula, yang saat itu menjabat sebagai Senior Executive Vice President Group Strategic Information Technology BCA, turut hadir dalam penyerahan sertifikasi di Menara BCA Grand Indonesia, Jakarta, pada 6 Februari 2026. www.bca.co.id+1
Peran David Formula dalam Transformasi Teknologi
Nama David Formula menjadi salah satu figur yang berkaitan dengan penguatan teknologi informasi di lingkungan BCA. Sebagai bagian dari jajaran pimpinan teknologi informasi perusahaan, ia memiliki keterkaitan dengan strategi pengembangan infrastruktur digital, pengelolaan sistem informasi, serta peningkatan kualitas teknologi perbankan.
Pengalaman profesional David di bidang teknologi informasi juga menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan industri keuangan. Sebelum bergabung dengan BCA, ia pernah menjalankan sejumlah posisi strategis di sektor perbankan dan teknologi, termasuk di Prudential Indonesia, Maybank Indonesia, dan Bank OCBC NISP.
Pengalaman tersebut mencakup bidang transformasi digital, pengelolaan infrastruktur teknologi, keamanan siber, hingga tata kelola sistem informasi. Kombinasi pengalaman itu relevan dengan kebutuhan perbankan modern yang semakin bergantung pada teknologi digital.
Meski demikian, pencapaian sertifikasi ISO merupakan hasil penerapan sistem dan komitmen institusional BCA, bukan pencapaian individual satu orang. Keterlibatan David mencerminkan peran strategis fungsi teknologi informasi dalam mendukung transformasi perusahaan. www.bca.co.id+1
ISO 27701: Standar Perlindungan Privasi Data
Salah satu sertifikasi yang diperoleh BCA adalah ISO 27701:2019. Standar internasional ini berfokus pada Privacy Information Management System (PIMS), yaitu sistem manajemen yang membantu organisasi mengelola informasi pribadi secara terstruktur.
Dalam operasional perbankan, data nasabah merupakan aset penting yang membutuhkan perlindungan maksimal. Informasi seperti identitas pribadi, riwayat transaksi, serta data keuangan harus dikelola dengan prosedur keamanan yang memadai.
ISO 27701 memberikan pedoman mengenai pengelolaan data pribadi sejak proses pengumpulan, penyimpanan, penggunaan, pemrosesan, hingga penghapusan informasi. Penerapan standar ini juga membantu organisasi memperkuat kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data pribadi.
Bagi BCA, sertifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan informasi yang lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Langkah ini semakin relevan setelah pemerintah Indonesia memberlakukan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Regulasi tersebut menegaskan pentingnya tanggung jawab organisasi dalam menjaga informasi pribadi yang dikelolanya. www.bca.co.id+1
ISO 42001 Perkuat Tata Kelola AI
Selain perlindungan privasi, BCA juga memperoleh sertifikasi ISO 42001:2023. Standar ini merupakan kerangka internasional untuk Artificial Intelligence Management System (AIMS), yang mengatur bagaimana organisasi mengembangkan, menerapkan, dan mengelola teknologi kecerdasan buatan.
Kehadiran AI dalam industri perbankan memberikan banyak kemungkinan. Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk membantu analisis informasi, meningkatkan efisiensi operasional, mendukung pengelolaan risiko, serta mengembangkan pengalaman layanan digital.
Namun, penggunaan AI tidak boleh hanya mempertimbangkan kecepatan dan efisiensi. Aspek transparansi, keadilan, keamanan, dan akuntabilitas juga harus menjadi perhatian utama.
ISO 42001 membantu organisasi membangun mekanisme pengawasan terhadap risiko yang mungkin muncul selama penggunaan teknologi AI. Dengan demikian, penerapan kecerdasan buatan dapat berjalan berdasarkan prosedur yang jelas dan memiliki tanggung jawab yang terukur.
BCA menempatkan sertifikasi tersebut sebagai bagian dari strategi penguatan tata kelola teknologi. Perusahaan juga menegaskan bahwa inovasi digital harus berjalan beriringan dengan perlindungan kepentingan nasabah. www.bca.co.id+1
BCA Terapkan Prinsip Responsible AI
Komitmen BCA terhadap penggunaan kecerdasan buatan tidak berhenti pada pencapaian sertifikasi. Perusahaan juga mengembangkan program Responsible AI yang mengatur penerapan teknologi tersebut sepanjang siklus penggunaannya.
Dalam kebijakan AI yang dipublikasikan BCA, terdapat tiga prinsip utama yang menjadi dasar pengelolaan teknologi kecerdasan buatan, yaitu keandalan, akuntabilitas, dan pengawasan manusia.
Prinsip keandalan memastikan sistem AI menghasilkan informasi yang dapat diverifikasi, dijelaskan, dan dipercaya. Sistem juga harus memiliki mekanisme mitigasi untuk mengurangi potensi gangguan keamanan.
Sementara itu, prinsip akuntabilitas menekankan pentingnya tanggung jawab dalam setiap tahapan pengembangan dan penggunaan AI. Pengelolaan data, perlindungan privasi, serta pencegahan bias menjadi bagian penting dari prinsip tersebut.
Adapun pengawasan manusia memastikan teknologi AI tidak sepenuhnya mengambil alih keputusan yang membutuhkan pertimbangan manusia. BCA menempatkan keterlibatan personel yang kompeten sebagai bagian dari mekanisme pengendalian.
Perusahaan juga menerapkan pembatasan akses terhadap teknologi AI sensitif, termasuk pengenalan wajah dan teknologi pengawasan. Penggunaannya hanya diperbolehkan bagi personel berwenang dan untuk kebutuhan yang telah mendapatkan persetujuan.
Selain itu, BCA menyediakan mekanisme keberatan terhadap keputusan yang dibuat dengan bantuan AI. Setiap pengajuan akan ditinjau oleh personel berkualifikasi sehingga keputusan yang berdampak signifikan tidak sepenuhnya diserahkan kepada sistem otomatis. program ai yang bertanggung jawab+1
Ribuan Karyawan Mendapat Pelatihan AI
Pengembangan teknologi yang bertanggung jawab membutuhkan kesiapan sumber daya manusia. Karena itu, BCA turut memperkuat kompetensi karyawan melalui program edukasi dan pelatihan terkait kecerdasan buatan.
Berdasarkan informasi resmi perusahaan, sepanjang 2025 sebanyak 2.550 karyawan yang relevan telah mengikuti program pelatihan AI. Pembelajaran tersebut dilaksanakan melalui berbagai metode, termasuk modul e-learning, kelas internal, serta pelatihan bersama lembaga eksternal.
Program tersebut mencakup 13 topik pelatihan kelas dan dua topik e-learning. Materi pembelajaran dirancang untuk meningkatkan pemahaman karyawan mengenai prinsip penggunaan AI, risiko teknologi, privasi data, serta aspek etika dalam penerapannya.
Langkah ini menunjukkan bahwa tata kelola kecerdasan buatan tidak hanya berkaitan dengan perangkat lunak dan infrastruktur teknologi. Kesiapan karyawan juga menjadi faktor penting agar penggunaan AI tetap sesuai dengan kebijakan perusahaan.
Dengan pemahaman yang lebih baik, karyawan diharapkan mampu mengenali potensi risiko sekaligus memanfaatkan teknologi secara aman dan bertanggung jawab. program ai yang bertanggung jawab
Keamanan Digital Menjadi Prioritas Perbankan
Transformasi digital membuat hubungan antara nasabah dan bank semakin bergantung pada teknologi. Aktivitas yang sebelumnya membutuhkan kunjungan langsung kini dapat dilakukan melalui aplikasi dan berbagai saluran elektronik.
Kondisi tersebut menghadirkan tuntutan baru bagi perbankan. Selain menyediakan layanan yang praktis, bank juga harus memastikan sistem digital mampu melindungi informasi dan transaksi nasabah dari berbagai ancaman siber.
BCA sebelumnya telah menjelaskan pendekatan keamanan digital melalui tiga aspek utama, yaitu people, process, dan technology. Ketiganya saling berkaitan dalam membangun sistem perlindungan yang kuat dan adaptif.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa keamanan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi terbaru. Prosedur operasional yang baik dan sumber daya manusia yang memahami risiko keamanan juga diperlukan.
Dalam konteks ini, penerapan ISO 27701 dan ISO 42001 memperkuat fondasi tata kelola perusahaan. Kedua standar tersebut memiliki fokus berbeda, tetapi saling melengkapi dalam mendukung keamanan dan kepercayaan di lingkungan perbankan digital. www.bca.co.id+1
Menjaga Kepercayaan Nasabah di Era AI
Pencapaian dua sertifikasi internasional tersebut menjadi salah satu langkah penting BCA dalam menghadapi perkembangan industri keuangan berbasis teknologi.
Peran David Formula dalam jajaran strategis teknologi informasi BCA turut memperlihatkan pentingnya kepemimpinan dan pengelolaan teknologi dalam mendukung transformasi digital perusahaan.
Ke depan, tantangan industri perbankan bukan sekadar mengadopsi kecerdasan buatan, melainkan memastikan teknologi tersebut memberikan manfaat tanpa mengabaikan keamanan dan hak nasabah.
BCA juga perlu menjaga konsistensi penerapan standar melalui evaluasi berkala, pengawasan sistem, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Hal ini penting karena perkembangan AI dan ancaman keamanan digital terus mengalami perubahan.
Pada akhirnya, inovasi perbankan harus dibangun di atas fondasi kepercayaan. Melalui penguatan privasi data, tata kelola AI, dan keamanan informasi, BCA menunjukkan upaya untuk menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan tanggung jawab terhadap nasabah.



