Untuk pertama kalinya, pengembang independen berhasil menunjukkan bahwa sistem operasi iOS milik Apple dapat dijalankan pada perangkat keras ponsel Android. Eksperimen tersebut menjadi perhatian komunitas teknologi karena selama ini iOS dikenal dirancang khusus untuk perangkat iPhone.
Sejumlah video yang beredar pada Oktober 2026 memperlihatkan iOS 16 berjalan pada beberapa ponsel Android, termasuk Redmi Note 10 Pro, Redmi Note 12 4G, Poco X5 Pro, dan Nothing Phone 3a. Demonstrasi itu memperlihatkan layar kunci, halaman utama, serta sejumlah menu bawaan iOS tampil pada perangkat yang tidak dibuat oleh Apple.
Meski terlihat seperti terobosan besar, eksperimen tersebut belum menghasilkan sistem operasi yang siap digunakan sehari-hari. Sejumlah fitur penting, seperti koneksi seluler, Wi-Fi, kamera, dan audio, masih belum berfungsi secara optimal pada beberapa perangkat yang diuji.
Pengembang Buktikan iOS di Android
Perhatian publik meningkat setelah pengembang independen membagikan demonstrasi iOS yang berhasil melakukan proses booting pada ponsel Android. Salah satu video yang ramai dibicarakan memperlihatkan iOS 16 berjalan pada Redmi Note 12 4G.
Eksperimen ini berkaitan dengan proyek sumber terbuka bernama ios-sweet dan pengembangan turunannya. Proyek tersebut mencoba menyesuaikan komponen inti sistem operasi Apple agar dapat bekerja pada perangkat keras berbasis Qualcomm Snapdragon.
Pendekatan ini berbeda dari aplikasi peluncur atau tema Android yang sekadar meniru tampilan iPhone. Dalam eksperimen tersebut, pengembang berupaya menjalankan komponen sistem iOS yang sebenarnya, termasuk kernel dan lingkungan sistem di atasnya.
Kelompok pengembang lain, OOSexGang, juga memperkenalkan proyek HackiOS yang diklaim mampu menjalankan iOS 16.5 pada Poco X5 Pro. Namun, tingkat pembuktian dan ketersediaan kode untuk setiap proyek berbeda. Karena itu, klaim masing-masing pengembang perlu dinilai berdasarkan dokumentasi teknis serta pengujian yang dapat diverifikasi.
Mengandalkan Kernel XNU Milik Apple
Salah satu kunci eksperimen ini adalah XNU, kernel yang menjadi bagian inti sistem operasi Apple. Kernel berfungsi sebagai penghubung antara perangkat lunak dan perangkat keras, termasuk prosesor, memori, serta penyimpanan.
Apple memublikasikan sebagian kode sumber XNU sehingga pengembang dapat mempelajari dan menyesuaikan komponen tersebut sesuai ketentuan lisensinya. Namun, tersedianya kode kernel bukan berarti seluruh iOS bersifat terbuka atau bebas dipasang di perangkat apa pun.
Dalam proyek ios-sweet, pengembang memodifikasi kernel agar dapat bekerja pada perangkat dengan chipset Qualcomm Snapdragon 732G, seperti Redmi Note 10 Pro. Setelah penyesuaian dilakukan, komponen sistem iOS 16.7.16 dari iPhone X digunakan untuk melengkapi lingkungan sistem.
Proses ini membutuhkan penyesuaian tingkat rendah karena perangkat Apple dan Android memiliki konfigurasi perangkat keras, firmware, serta dukungan pengandar atau driver yang berbeda.
Pengembang harus memastikan sistem mampu menginisialisasi prosesor, membaca memori, mengelola layar, dan menjalankan layanan sistem. Tanpa penyesuaian tersebut, perangkat mungkin berhenti pada logo awal atau gagal menyelesaikan proses booting.
Layar Utama Sudah Bisa Ditampilkan
Hasil eksperimen menunjukkan kemajuan pada sejumlah fungsi dasar. Pada Redmi Note 10 Pro, iOS dapat menampilkan layar kunci, halaman utama, Control Center, dan menu Settings. Sentuhan layar serta sejumlah tombol perangkat juga dilaporkan telah merespons.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa sistem dapat melewati tahap awal proses booting dan menampilkan antarmuka iOS pada perangkat keras Android.
Namun, kemampuan menampilkan antarmuka belum berarti seluruh sistem berfungsi normal. Tanpa pengandar perangkat keras yang lengkap, sistem operasi tidak dapat memanfaatkan seluruh kemampuan ponsel.
Pada sejumlah perangkat yang diuji, konektivitas Wi-Fi, Bluetooth, data seluler, audio, dan kamera masih bermasalah atau belum berfungsi. Akselerasi grafis juga menjadi kendala, sehingga tampilan harus diproses menggunakan prosesor utama dan berjalan lebih lambat daripada pengalaman iPhone pada umumnya.
Keterbatasan tersebut membuat eksperimen ini lebih tepat disebut pembuktian konsep teknis daripada alternatif sistem operasi untuk pengguna umum.
Mengapa Prosesnya Sangat Rumit?
iOS dan Android memiliki perbedaan dalam cara berkomunikasi dengan perangkat keras. Walaupun sama-sama berjalan pada prosesor berbasis ARM di banyak perangkat, keduanya tidak otomatis kompatibel.
Setiap ponsel memiliki komponen dan konfigurasi berbeda, mulai dari pengelolaan daya, layar sentuh, modem, sensor, hingga kamera. Sistem operasi membutuhkan driver yang sesuai untuk mengenali dan mengendalikan komponen tersebut.
Pengembang yang mencoba menjalankan iOS di Android harus mengatasi perbedaan itu satu per satu. Mereka juga perlu menyesuaikan proses booting dan memastikan komponen sistem dapat bekerja bersama tanpa menyebabkan perangkat gagal menyala.
Tantangan berikutnya adalah performa. Sistem yang berhasil mencapai layar utama belum tentu dapat menjalankan aplikasi dengan lancar. Tanpa dukungan grafis dan pengelolaan perangkat keras yang tepat, animasi bisa tersendat dan konsumsi sumber daya menjadi tidak efisien.
Karena itu, keberhasilan menjalankan iOS pada satu model ponsel tidak berarti sistem yang sama bisa langsung dipasang pada seluruh perangkat Android.
Belum Cocok untuk Penggunaan Sehari-hari
Bagi pengguna yang berharap dapat mengubah ponsel Android menjadi iPhone tanpa membeli perangkat baru, eksperimen ini belum menawarkan solusi praktis.
Fitur dasar seperti menelepon, mengakses internet melalui jaringan seluler, mengambil foto, dan memutar audio merupakan kebutuhan utama sebuah ponsel. Ketika fungsi-fungsi tersebut belum tersedia, perangkat tidak dapat menggantikan iPhone maupun ponsel Android biasa.
Risiko pemasangan juga perlu diperhatikan. Proses modifikasi sistem tingkat rendah dapat menghapus data pengguna, merusak konfigurasi perangkat, atau menyebabkan ponsel gagal melakukan booting jika terjadi kesalahan.
Sejumlah pengembang proyek eksperimental bahkan memperingatkan pengguna agar tidak menyimpan informasi pribadi pada perangkat yang menjalankan sistem tersebut. Proteksi keamanan dan dukungan perangkat kerasnya belum setara dengan sistem operasi yang dirancang khusus untuk ponsel terkait.
Pengguna sebaiknya tidak mengunduh berkas instalasi dari sumber yang tidak jelas, terutama jika menjanjikan iOS dapat dipasang dengan mudah hanya melalui satu aplikasi. Tautan semacam itu berpotensi digunakan untuk menyebarkan malware atau mencuri data.
Kebalikan dari Proyek Android di iPhone
Menjalankan sistem operasi pada perangkat yang bukan pasangan aslinya sebenarnya bukan konsep baru. Pada 2010, proyek iDroid pernah memungkinkan Android berjalan pada iPhone generasi awal.
Sekitar satu dekade kemudian, proyek Project Sandcastle dari perusahaan keamanan Corellium juga mendemonstrasikan Android pada sejumlah iPhone dengan chip Apple tertentu.
Eksperimen terbaru mengambil arah sebaliknya: membawa iOS ke perangkat Android. Hal ini menarik karena menunjukkan bahwa batas kompatibilitas perangkat lunak dan perangkat keras dapat diuji melalui rekayasa sistem tingkat rendah.
Meski demikian, iOS tetap dikembangkan untuk ekosistem perangkat Apple. Dukungan resmi, kompatibilitas aplikasi, pembaruan keamanan, dan integrasi perangkat keras masih menjadi pembeda utama antara eksperimen tersebut dan iPhone yang dijual kepada konsumen.
Masa Depan Proyek iOS di Android
Keberhasilan awal menjalankan iOS di Android membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai kernel, kompatibilitas perangkat keras, dan rekayasa balik sistem operasi.
Jika pengembang mampu memperbaiki driver, pengelolaan grafis, dan dukungan konektivitas, eksperimen ini berpotensi menjadi semakin stabil. Namun, tidak ada jaminan bahwa proyek tersebut akan berkembang menjadi sistem yang aman dan nyaman untuk penggunaan sehari-hari.
Pengembangan juga perlu memperhatikan ketentuan lisensi perangkat lunak, hak kekayaan intelektual, dan keamanan pengguna. Keberhasilan teknis tidak otomatis berarti semua komponen dapat didistribusikan secara bebas.
Untuk saat ini, pencapaian tersebut merupakan eksperimen yang menarik bagi komunitas pengembang dan peneliti sistem operasi. Pengguna umum sebaiknya menunggu sampai tersedia versi yang terdokumentasi, dapat diuji secara independen, dan memiliki dukungan keamanan memadai.
Kesimpulannya, menjalankan iOS pada ponsel Android kini telah diperlihatkan melalui sejumlah demonstrasi teknis. Namun, perjalanan menuju sistem yang benar-benar berfungsi masih panjang. Keberhasilan menampilkan layar iOS merupakan langkah awal, bukan tanda bahwa Android dapat langsung berubah menjadi iPhone.



