Perdebatan mengenai masa depan kecerdasan buatan atau AI semakin memanas. Kali ini, sorotan datang dari Liu Shengyu, seorang insinyur DeepSeek yang terlibat dalam pengembangan model V4.1.
Liu mengkritik gagasan untuk memperlambat pengembangan AI yang didorong sejumlah perusahaan teknologi Amerika Serikat, termasuk Anthropic. Dalam unggahan di WeChat, ia menyampaikan kekhawatiran bahwa perlambatan justru dapat membuat teknologi AI paling canggih terkonsentrasi pada segelintir perusahaan.
Dalam pernyataannya, Liu menggunakan analogi sejarah yang sangat tajam. Ia membandingkan kemungkinan Anthropic menguasai artificial general intelligence atau AGI dengan skenario Adolf Hitler memperoleh teknologi bom atom sebelum pihak Sekutu. Perbandingan tersebut digunakan untuk menggambarkan kekhawatirannya terhadap konsentrasi teknologi yang sangat kuat pada satu pihak.
Pernyataan itu kemudian menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai pertanyaan penting: apakah pengembangan AI sebaiknya dipercepat, diperlambat, atau diawasi dengan aturan keselamatan yang lebih ketat?
Kritik terhadap Gagasan Perlambatan AI
Liu tidak melihat ajakan memperlambat perkembangan AI hanya sebagai persoalan keselamatan teknologi. Ia juga mempertanyakan siapa yang akan memperoleh keuntungan jika perusahaan tertentu menjadi pemimpin dalam pengembangan model AI paling canggih.
Menurut laporan South China Morning Post, Liu menyatakan tidak mempercayai Anthropic maupun OpenAI untuk membuat teknologi AI paling maju menjadi terbuka dan terjangkau. Pandangan tersebut berkaitan dengan perbedaan pendekatan antara perusahaan AI tertutup di Amerika Serikat dan model open-source yang menjadi salah satu karakteristik DeepSeek.
Perdebatan tersebut menjadi semakin menarik karena Anthropic justru menjadi salah satu perusahaan yang paling vokal mengenai risiko AI tingkat lanjut.
CEO Anthropic Dario Amodei telah menyuarakan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap pengembangan AI. Dalam beberapa kesempatan, perusahaan tersebut juga mendorong evaluasi independen terhadap model AI generasi terbaru.
Dengan demikian, perdebatan antara kedua pihak bukan semata-mata mengenai apakah AI berbahaya atau tidak. Ada persoalan lain yang ikut masuk, yakni siapa yang mengendalikan teknologi, bagaimana akses terhadap AI diberikan, dan seberapa jauh pengembang harus bertanggung jawab terhadap risiko yang muncul.
Anthropic Mendorong Evaluasi Keamanan
Anthropic dalam beberapa bulan terakhir memperkuat perhatian terhadap keamanan AI. Pada September 2026, perusahaan tersebut mengumumkan kerja sama dengan Accenture untuk menginvestasikan sedikitnya US$2 miliar selama lima tahun dalam pengembangan kemampuan evaluasi model AI secara independen.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat evaluasi, red-teaming, dan penilaian keamanan terhadap model AI frontier.
Langkah itu menunjukkan bahwa Anthropic tidak hanya berbicara mengenai keamanan secara teoritis. Perusahaan juga berupaya membangun mekanisme pengujian untuk mengidentifikasi perilaku model yang berpotensi menimbulkan masalah.
Namun, dari sudut pandang Liu, pendekatan semacam itu perlu dilihat bersama persoalan konsentrasi kekuatan teknologi.
Jika hanya beberapa perusahaan yang menguasai model AI paling maju, keputusan mengenai perkembangan teknologi tersebut juga akan semakin banyak berada di tangan perusahaan-perusahaan tersebut.
Apa yang Dimaksud AGI?
Salah satu istilah penting dalam perdebatan ini adalah Artificial General Intelligence atau AGI.
Secara umum, AGI digunakan untuk menggambarkan sistem AI hipotetis yang memiliki kemampuan kognitif sangat luas dan dapat menjalankan beragam tugas intelektual pada tingkat yang setara atau melampaui manusia.
Namun, hingga kini belum ada definisi tunggal yang diterima semua pihak mengenai kapan sebuah sistem dapat disebut AGI.
Perusahaan teknologi memiliki pandangan berbeda mengenai kemampuan yang dibutuhkan untuk mencapai tahap tersebut. Karena itu, klaim mengenai kapan AGI akan tercapai juga masih menjadi bahan perdebatan.
Dalam konteks pernyataan Liu, AGI dipandang sebagai teknologi yang memiliki potensi kekuatan sangat besar. Kekhawatiran utamanya adalah jika kemampuan tersebut hanya dikuasai satu atau beberapa perusahaan.
Open Source Jadi Bagian Perdebatan
DeepSeek memperoleh perhatian global setelah merilis model AI yang kompetitif dan menggunakan pendekatan yang lebih terbuka dibandingkan sejumlah pesaingnya.
Pendekatan open-source atau open-weight dapat memberikan kesempatan kepada lebih banyak pengembang untuk mempelajari, mengadaptasi, dan menggunakan model tertentu, meski tingkat keterbukaan setiap model berbeda.
Liu melihat keterbukaan tersebut sebagai bagian dari persoalan akses terhadap teknologi.
Dalam pandangannya, masa depan AI tidak seharusnya ditentukan hanya oleh segelintir perusahaan yang memiliki sumber daya komputasi dan modal sangat besar.
Pandangan tersebut berhadapan dengan argumen dari kelompok yang menilai model paling canggih membutuhkan pengamanan ketat karena kemampuan AI juga dapat digunakan untuk aktivitas berbahaya.
Kedua perspektif tersebut menjadi bagian dari perdebatan global mengenai tata kelola AI.
Risiko AI Semakin Menjadi Perhatian
Di sisi lain, kekhawatiran mengenai keamanan AI bukan tanpa dasar. Anthropic baru-baru ini mempublikasikan laporan mengenai sejumlah kasus penyalahgunaan model Claude.
Dalam laporan September 2026, perusahaan menyebut menemukan operasi yang menggunakan AI untuk berbagai aktivitas, termasuk operasi siber, pengawasan, pengaruh informasi, penipuan, pengembangan senjata konvensional, dan penyalahgunaan biologis.
Anthropic juga melaporkan telah mengidentifikasi kasus akses tidak sah ke sistem pihak ketiga dalam evaluasi terhadap model Claude. Perusahaan menyatakan melakukan penyelidikan dan memberi tahu pihak yang terdampak.
Temuan semacam ini menjadi salah satu alasan mengapa sejumlah perusahaan AI mendorong pengujian keamanan sebelum model dengan kemampuan lebih tinggi digunakan secara luas.
China Memiliki Pendekatan Sendiri
Perdebatan mengenai AI juga tidak dapat dilepaskan dari persaingan teknologi antara China dan Amerika Serikat.
China dalam beberapa tahun terakhir mengembangkan kebijakan untuk mengatur risiko AI, termasuk standar keamanan, evaluasi, dan pengawasan terhadap teknologi yang semakin otonom.
Reuters melaporkan bahwa China sedang membangun kerangka regulasi untuk menghadapi kemungkinan risiko dari AI yang tidak terkendali. Pendekatan Beijing mencakup standar keselamatan, penilaian keamanan, pengujian eksternal, dan pengawasan regulasi.
Pada saat yang sama, China tetap mendorong penggunaan AI secara luas di berbagai sektor.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa regulasi AI tidak selalu berarti menghentikan pengembangan teknologi. Perdebatan lebih banyak berkisar pada bagaimana inovasi dapat berjalan bersamaan dengan mekanisme keselamatan.
Persaingan AI AS-China
Komentar Liu muncul ketika persaingan AI antara Amerika Serikat dan China semakin erat dengan persoalan geopolitik.
Perusahaan Amerika Serikat seperti OpenAI, Anthropic, Google DeepMind, dan perusahaan teknologi lainnya berlomba mengembangkan model AI dengan kemampuan yang semakin tinggi.
Sementara itu, perusahaan China seperti DeepSeek, Alibaba, Tencent, dan sejumlah laboratorium lainnya juga terus mengembangkan model mereka.
Persaingan tersebut tidak hanya menyangkut teknologi. Kemampuan AI juga berkaitan dengan komputasi, semikonduktor, keamanan siber, produktivitas ekonomi, dan pertahanan.
Karena itu, keputusan mengenai regulasi dan pengembangan AI dapat memiliki dampak lebih luas daripada sekadar persaingan antarperusahaan.
Perdebatan Belum Berakhir
Pernyataan Liu Shengyu menunjukkan bahwa perdebatan mengenai masa depan AI tidak memiliki satu sudut pandang yang sederhana.
Ada pihak yang menekankan pentingnya keselamatan dan perlambatan pengembangan ketika kemampuan model meningkat cepat. Ada pula pihak yang khawatir bahwa perlambatan dapat memperbesar konsentrasi kekuatan teknologi pada perusahaan tertentu atau membuat suatu negara tertinggal dalam persaingan AI.
Dalam konteks tersebut, analogi sejarah yang digunakan Liu menjadi bagian paling kontroversial dari pernyataannya. Perbandingan tersebut merupakan pandangan pribadi Liu mengenai konsekuensi konsentrasi teknologi, bukan fakta bahwa Anthropic memiliki tujuan atau karakter yang sama dengan rezim Nazi.
Yang lebih mendasar adalah pertanyaan mengenai siapa yang akan mengendalikan AI paling canggih dan bagaimana teknologi tersebut akan diatur.
Dengan kemampuan AI yang terus berkembang, perdebatan antara inovasi, keterbukaan, keamanan, dan regulasi kemungkinan akan semakin intens. DeepSeek dan Anthropic berada pada sisi yang berbeda dalam sejumlah aspek, tetapi keduanya menjadi bagian dari perlombaan teknologi yang sama.
Pada akhirnya, perkembangan AI akan ditentukan bukan hanya oleh seberapa cepat model baru dibuat, tetapi juga oleh aturan, mekanisme pengawasan, dan keputusan manusia mengenai bagaimana teknologi tersebut digunakan.



