AI di Kedokteran Bukan Ancaman


๐Ÿค– AI Sudah Lama Digunakan di Dunia Kedokteran, FKUI: Dokter Tak Akan Tertinggal

Jakarta, 20 Juli 2025 โ€” Pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin tentang potensi ketertinggalan dokter yang enggan menggunakan artificial intelligence (AI) memicu respons dari akademisi kedokteran. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. Ari Fahrial Syam, menilai bahwa teknologi AI bukanlah hal baru dalam dunia medis. Bahkan, menurutnya, AI telah lama menjadi bagian dari praktik klinis dan pendidikan kedokteran di Indonesia.


๐Ÿง  AI Sudah Diterapkan Sejak Lama

Dalam wawancara yang dilakukan pada Sabtu, 19 Juli 2025, Prof. Ari menyatakan bahwa AI sudah digunakan sejak lama, baik dalam kegiatan belajar-mengajar, penelitian, hingga layanan kesehatan.

“Saya ingat sekali saat orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar pada 2018, saya sudah bicara tentang topik itu,” ujarnya.

Ari menekankan bahwa dokter-dokter di Indonesia, terutama para spesialis, tidak memusuhi teknologi. Mereka telah banyak menggunakan teknologi berbasis AI dalam mendukung pekerjaan medis.


๐Ÿ” Contoh Penggunaan AI di Dunia Medis

Beberapa contoh konkret yang disampaikan Ari mengenai penerapan AI di bidang kedokteran Indonesia antara lain:

  • Deteksi Covid-19 dari suara batuk, hasil kolaborasi tim FKUI selama masa pandemi.
  • Analisis kejiwaan dari wawancara pasien, yang juga melibatkan algoritma cerdas.
  • Pendampingan penelitian doktoral di bidang pemeriksaan endoskopi saluran cerna menggunakan AI.
  • Pembacaan EKG (rekam jantung) berbasis AI yang kini umum digunakan di rumah sakit.
  • Penerapan rekam medis elektronik (electronic medical records) bahkan hingga di tingkat puskesmas.

Semua itu membuktikan bahwa AI telah membantu dokter, bukan menggantikannya.


๐Ÿฅ AI sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti

Prof. Ari menegaskan bahwa AI adalah alat bantu medis dan tidak dapat menggantikan penilaian akhir seorang dokter. Walaupun AI memiliki kemampuan luar biasa dalam mengolah data, keputusan akhir dalam praktik medis tetap berada di tangan tenaga kesehatan manusia.

โ€œTetap dokter yang akan memberikan keputusan akhir,โ€ katanya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kemampuan AI sangat bergantung pada kualitas dan kelengkapan data yang diberikan. Jika data yang digunakan untuk pelatihan AI tidak lengkap atau belum mencakup kasus tertentu, maka kemungkinan kesalahan tetap ada.

โ€œKalau datanya belum pernah diberikan, ya mungkin dia akan miss.โ€


๐Ÿ—จ๏ธ Menanggapi Pernyataan Menkes

Pernyataan Menkes Budi Gunadi sebelumnya menyebut bahwa dokter akan tertinggal jika memusuhi AI. Hal itu ia sampaikan dalam acara peluncuran The First Da Vinci Xi in Indonesia di RS Siloam, Jakarta Selatan, pada Rabu, 16 Juli 2025.

Dalam kesempatan itu, Budi menyebut teknologi AI telah banyak membantu prosedur bedah dan akan menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem kesehatan Indonesia.

Namun, menurut Ari, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya relevan, sebab dunia medis sudah terbuka terhadap teknologi, termasuk AI. Bahkan kini, hampir semua rumah sakit besar hingga puskesmas sudah memakai sistem elektronik berbasis AI.

“Jadi sebenarnya artificial intelligence ini sudah hal yang umum ada di seputaran kita,” tegasnya.


๐Ÿ“š AI dalam Pendidikan dan Penelitian Kedokteran

Tidak hanya di rumah sakit, penggunaan AI juga merambah ke dalam dunia pendidikan kedokteran. Menurut Ari, FKUI telah mengintegrasikan pembelajaran berbasis teknologi, termasuk penggunaan simulasi dan AI, dalam berbagai mata kuliah klinik dan dasar.

Begitu pula dalam penelitian medis, AI mulai digunakan untuk mempermudah proses analisis data dan pemodelan prediktifโ€”misalnya untuk skrining penyakit atau evaluasi terapi.


๐Ÿค– Teknologi AI Adalah Keniscayaan

AI di bidang kesehatan merupakan bagian dari gelombang teknologi global yang tidak terhindarkan. Penggunaan AI untuk:

  • Diagnosis awal penyakit,
  • Optimalisasi layanan rawat inap,
  • Operasi bedah robotik,
  • Pemantauan pasien secara real-time,

…menjadi standar baru dalam praktik medis modern. Tetapi penting diingat, AI harus tetap menjadi alat bantu dan tidak menggantikan kemampuan klinis serta empati manusiawi dari seorang dokter.


๐Ÿงฉ Tantangan Etika dan Regulasi

Meski perkembangan AI membawa banyak manfaat, Ari juga mengingatkan pentingnya regulasi dan prinsip etika medis yang jelas. Penggunaan AI dalam kedokteran menyangkut:

  • Privasi data pasien,
  • Keakuratan hasil AI,
  • Kewenangan keputusan klinis,
  • dan tanggung jawab hukum bila terjadi kesalahan.

Dengan demikian, perlu adanya kerangka hukum dan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara inovasi dan keselamatan pasien.


๐Ÿ”š Kesimpulan: Kolaborasi, Bukan Kompetisi

Kecerdasan buatan bukanlah musuh dokter, melainkan mitra yang membantu dalam meningkatkan akurasi, efisiensi, dan kualitas layanan medis. Dunia kedokteran Indonesia, menurut Dekan FKUI, telah dan akan terus bergerak selaras dengan kemajuan teknologi.

Pernyataan bahwa dokter akan tertinggal jika menolak AI, mungkin perlu dilihat dengan kacamata lebih luas. Sebab faktanya, AI sudah menjadi bagian sehari-hari dalam praktik dan pendidikan kedokteran di Indonesia.

Yang terpenting, dalam menghadapi masa depan medis yang semakin digital, manusia tetap menjadi pengambil keputusan utamaโ€”sementara AI berfungsi sebagai alat bantu yang cerdas dan efisien.


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *