China dikenal sebagai salah satu pusat manufaktur teknologi terbesar di dunia. Negara ini memproduksi berbagai perangkat elektronik, komponen komputer, ponsel, hingga peralatan telekomunikasi dalam skala masif. Namun, kekuatan industri tersebut belum otomatis membuat China mampu memproduksi chip kecerdasan buatan (AI) paling canggih yang dapat menyaingi Nvidia.
Persoalannya bukan sekadar kemampuan merancang prosesor. Produksi chip AI kelas atas membutuhkan kombinasi teknologi manufaktur semikonduktor, peralatan litografi, memori berkecepatan tinggi, pengemasan canggih, serta perangkat lunak yang mampu memaksimalkan kinerja perangkat keras.
China telah menunjukkan kemajuan melalui perusahaan seperti Huawei dan Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC). Meski demikian, sejumlah keterbatasan dalam rantai pasok masih menghambat kemampuan industri domestiknya untuk menghasilkan chip dengan performa dan volume produksi setara pesaing global.
Analisis Centre for European and International Affairs Studies (CEIAS) pada Juni 2026 menyebut industri chip AI China masih menghadapi hambatan besar, terutama pada peralatan litografi dan produksi memori. Kondisi tersebut membuat upaya mencapai kemandirian semikonduktor menjadi proses panjang. Sumber: CEIAS.
Pabrik Banyak, Teknologi Belum Merata
Besarnya industri manufaktur China menjadi modal penting dalam pengembangan semikonduktor. Negara tersebut mempunyai jaringan pemasok komponen, tenaga teknik, fasilitas perakitan, serta pasar domestik yang besar untuk menyerap produk teknologi.
Namun, pembuatan chip AI mutakhir berbeda dari produksi elektronik konsumen pada umumnya. Sebuah pabrik dapat menghasilkan jutaan komponen elektronik, tetapi belum tentu memiliki peralatan dan proses produksi yang dibutuhkan untuk membuat prosesor dengan transistor berukuran sangat kecil serta tingkat efisiensi tinggi.
Dalam industri semikonduktor, kemampuan memproduksi chip pada proses manufaktur terdepan merupakan salah satu faktor penentu. Proses yang lebih maju dapat membantu meningkatkan kepadatan transistor dan efisiensi energi, meskipun kinerja akhir tetap dipengaruhi arsitektur chip, memori, sistem pendingin, dan desain keseluruhan.
China memiliki SMIC sebagai salah satu produsen chip utama. Perusahaan tersebut mampu memproduksi semikonduktor canggih untuk kebutuhan domestik, tetapi menghadapi keterbatasan dalam memperluas produksi dengan teknologi manufaktur paling mutakhir.
Salah satu hambatan penting adalah akses terhadap peralatan litografi canggih, terutama mesin extreme ultraviolet (EUV) yang digunakan dalam proses produksi chip terdepan. Pembatasan ekspor teknologi tertentu dari Amerika Serikat dan negara sekutunya mempersempit akses perusahaan China terhadap sebagian peralatan serta teknologi pendukung.
Akibatnya, China harus mengembangkan alternatif domestik dan mengoptimalkan teknologi yang tersedia. Pendekatan tersebut dapat menghasilkan kemajuan, tetapi meningkatkan skala produksi dengan biaya dan tingkat hasil produksi yang kompetitif tetap menjadi tantangan.
Huawei Menjadi Penantang Nvidia
Di tengah keterbatasan itu, Huawei muncul sebagai salah satu pemain utama dalam pengembangan chip AI China. Keluarga prosesor Ascend dirancang untuk menjalankan beban kerja kecerdasan buatan, termasuk pelatihan model dan proses inferensi.
Huawei berupaya memperkuat posisi produk domestik ketika akses ke chip Nvidia dibatasi. Perusahaan China lainnya, termasuk Alibaba, Cambricon, Baidu, dan Hygon, juga mengembangkan akselerator AI untuk memenuhi kebutuhan pusat data serta layanan komputasi.
Data yang dilaporkan Reuters pada 13 Oktober 2026 menunjukkan perubahan persaingan di pasar chip AI pusat data China. Pada semester pertama 2026, pangsa Nvidia di pasar tersebut turun menjadi 34%, sedangkan Huawei mencapai 28% berdasarkan data yang dikutip dari laporan industri. Pengiriman akselerator AI domestik juga meningkat. Sumber: Reuters.
Angka itu memperlihatkan bahwa perusahaan China semakin mampu merebut pasar dalam negeri. Namun, pangsa pasar tidak sama dengan kesetaraan teknologi. Sebuah perusahaan dapat memperoleh penjualan besar karena dukungan kebijakan, kebutuhan pelanggan, atau terbatasnya pasokan pesaing, tanpa berarti produknya telah menyamai performa chip paling canggih di dunia.
Karena itu, kemajuan Huawei perlu dinilai berdasarkan sejumlah indikator, termasuk kemampuan komputasi, efisiensi energi, ketersediaan produk, dan kinerja sistem secara keseluruhan.
Memori Menjadi Hambatan Berikutnya
Selain prosesor, chip AI membutuhkan memori dengan bandwidth tinggi agar dapat memindahkan data dalam jumlah besar secara cepat. Salah satu teknologi penting adalah high-bandwidth memory (HBM), yang membantu mempercepat akses data ketika model AI memproses informasi dalam skala besar.
Tanpa dukungan memori yang memadai, prosesor dengan kemampuan komputasi tinggi tidak selalu dapat bekerja secara optimal. Pemrosesan model AI modern membutuhkan perpindahan data yang intensif, sehingga kecepatan memori dan konektivitas antarkomponen menjadi faktor penting dalam menentukan kinerja sistem.
China berupaya membangun kemampuan produksi memori dan pengemasan chip secara mandiri. Namun, mengembangkan teknologi tersebut bukan hanya persoalan menciptakan desain yang berfungsi. Produsen juga harus memastikan kualitas, tingkat keberhasilan produksi, konsistensi pasokan, dan biaya yang dapat diterima pasar.
Hambatan di bagian memori dapat memengaruhi kemampuan perusahaan memperbesar produksi akselerator AI. Dengan demikian, kemandirian chip tidak cukup dicapai melalui pengembangan prosesor saja, tetapi memerlukan rantai pasok yang kuat dari bahan dan peralatan hingga pengemasan serta pengujian.
Nvidia Unggul dalam Ekosistem Perangkat Lunak
Keunggulan Nvidia tidak hanya berasal dari perangkat keras. Perusahaan tersebut juga mempunyai ekosistem perangkat lunak yang telah lama digunakan pengembang, termasuk CUDA, platform komputasi paralel yang mendukung berbagai aplikasi AI dan komputasi ilmiah.
Ekosistem tersebut memudahkan pengembang menyesuaikan aplikasi dengan GPU Nvidia. Banyak kerangka kerja, pustaka pemrograman, dan perangkat pengembangan telah dibangun untuk memanfaatkan teknologi perusahaan itu.
Bagi pesaing China, tantangannya adalah menyediakan alternatif yang tidak hanya memiliki kemampuan komputasi memadai, tetapi juga kompatibel dengan kebutuhan pengembang. Perusahaan perlu memastikan model AI dapat dipindahkan, diuji, dan dijalankan dengan efisien pada perangkat keras mereka.
Huawei mengembangkan perangkat lunak dan sistem komputasi sendiri untuk mendukung chip Ascend. Langkah ini dapat mengurangi ketergantungan pada teknologi asing, tetapi proses membangun ekosistem yang matang membutuhkan waktu, dukungan pengembang, dokumentasi, dan pengujian pada beragam aplikasi.
Keunggulan perangkat lunak juga membuat perbandingan chip AI tidak sesederhana melihat spesifikasi di atas kertas. Kinerja nyata sangat bergantung pada bagaimana prosesor, memori, jaringan, dan perangkat lunak bekerja sebagai satu sistem.
Pembatasan Ekspor Memperumit Persaingan
Persaingan chip AI China dan Amerika Serikat tidak terlepas dari ketegangan geopolitik. Pemerintah AS memberlakukan pembatasan terhadap ekspor sejumlah teknologi semikonduktor canggih ke China dengan alasan keamanan nasional.
Kebijakan tersebut membatasi akses perusahaan China terhadap produk dan peralatan tertentu. Di sisi lain, pembatasan juga mendorong Beijing mempercepat investasi dalam industri semikonduktor domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemasok asing.
Dampaknya tidak selalu sederhana. China memiliki pasar besar dan dukungan industri yang kuat, tetapi membangun teknologi pengganti membutuhkan investasi, penelitian, dan waktu. Sementara itu, perusahaan seperti Nvidia terus mengembangkan arsitektur chip serta sistem komputasi baru.
Laporan Epoch AI yang diperbarui pada September 2026 memperkirakan Huawei masih menghadapi kesenjangan terhadap Nvidia dalam kemampuan komputasi dan volume produksi. Laporan itu juga menilai pembatasan ekspor menghambat sejumlah jalur yang dibutuhkan Huawei untuk mengejar ketertinggalan. Sumber: Epoch AI.
Kemandirian Chip Masih Membutuhkan Waktu
China tidak memulai pengembangan chip AI dari nol. Negara tersebut sudah mempunyai produsen semikonduktor, perusahaan desain prosesor, fasilitas pengemasan, dan pasar domestik yang besar. Kemajuan Huawei serta produsen lokal lainnya menunjukkan bahwa investasi jangka panjang dapat menghasilkan alternatif yang semakin kompetitif.
Namun, mengurangi ketergantungan terhadap Nvidia berbeda dari menyamai seluruh kemampuan teknologi Nvidia. China dapat meningkatkan penggunaan chip lokal di sektor pemerintah, telekomunikasi, dan pusat data tertentu, sementara kebutuhan untuk pelatihan model AI berskala besar tetap menuntut kapasitas komputasi, memori, dan perangkat lunak yang mumpuni.
Ke depan, keberhasilan China akan bergantung pada kemampuannya mengatasi keterbatasan peralatan manufaktur, meningkatkan hasil produksi, memperkuat pasokan memori, dan memperluas ekosistem pengembang. Kemampuan mengintegrasikan semua komponen itu akan sama pentingnya dengan menciptakan chip baru.
Pada akhirnya, banyaknya pabrik teknologi merupakan modal besar, tetapi bukan jaminan langsung untuk menjadi pemimpin semikonduktor. Dalam perlombaan chip AI, keunggulan ditentukan oleh keseluruhan rantai teknologi—mulai dari desain dan manufaktur hingga perangkat lunak serta kapasitas produksi massal. China terus mengejar, tetapi menyamai Nvidia pada kelas chip paling canggih masih menjadi pekerjaan besar.



