Persaingan China untuk membangun industri kecerdasan buatan mandiri menghadapi persoalan baru. Bukan hanya kemampuan prosesor yang menjadi perhatian, tetapi juga ketersediaan memori berkecepatan tinggi yang menjadi komponen penting dalam sistem komputasi AI.
Harga sejumlah chip AI buatan China dilaporkan melonjak akibat kelangkaan High-Bandwidth Memory (HBM). Kondisi tersebut membuat produsen seperti Huawei dan Cambricon harus menaikkan harga prosesor AI mereka, termasuk produk generasi terbaru yang tengah dipersiapkan untuk pasar.
Menurut laporan Reuters, harga indikatif kartu akselerator Huawei Ascend 950DT kini telah menembus lebih dari 250.000 yuan atau sekitar US$37.255. Angka tersebut meningkat sekitar 20 hingga 50 persen dibandingkan penawaran kepada pelanggan sekitar dua bulan sebelumnya, tergantung ketentuan kontrak.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa perang teknologi AI tidak hanya ditentukan oleh kemampuan merancang prosesor. Rantai pasok memori juga menjadi faktor strategis yang dapat menentukan harga dan ketersediaan perangkat keras AI.
HBM Jadi Komponen Penting
HBM merupakan jenis memori yang dirancang untuk menyediakan bandwidth sangat tinggi sehingga prosesor dapat mengakses data dalam jumlah besar dengan cepat. Teknologi tersebut menjadi komponen penting pada akselerator AI yang digunakan untuk melatih maupun menjalankan model kecerdasan buatan.
Berbeda dengan memori biasa yang banyak digunakan pada komputer dan perangkat konsumen, HBM dirancang untuk kebutuhan komputasi dengan beban data sangat besar. Karena itu, permintaan terhadap HBM meningkat seiring pertumbuhan pusat data AI di berbagai negara.
Pasar HBM saat ini juga memiliki konsentrasi pemasok yang relatif tinggi. SK Hynix, Samsung Electronics, dan Micron Technology menjadi pemain utama dalam industri memori tersebut. Ketergantungan pada pemasok besar membuat gangguan pasokan atau pembatasan perdagangan dapat memberikan dampak langsung kepada produsen chip AI.
Situasi tersebut menjadi semakin rumit bagi perusahaan China karena akses terhadap sejumlah teknologi HBM canggih telah dibatasi oleh kebijakan ekspor Amerika Serikat.
Huawei Naikkan Harga Ascend
Huawei menjadi salah satu perusahaan yang paling terlihat terdampak situasi tersebut. Perusahaan ini tengah mengembangkan keluarga akselerator Ascend sebagai bagian dari upaya menyediakan alternatif lokal untuk produk AI Nvidia.
Ascend 950DT merupakan salah satu produk paling canggih yang disiapkan Huawei. Perusahaan sebelumnya menyatakan produk tersebut akan tersedia pada kuartal keempat 2026.
Namun, biaya komponen membuat harga produk mengalami perubahan signifikan. Reuters melaporkan harga Ascend 950DT telah berada di atas 250.000 yuan, dengan kenaikan sekitar 20 hingga 50 persen dari penawaran sebelumnya.
Huawei juga menghadapi peningkatan harga pada produk generasi sebelumnya.
Ascend 950PR, misalnya, sebelumnya dijual sekitar 60.000 yuan per kartu pada awal 2026. Kini, harga produk tersebut dilaporkan telah melewati 80.000 yuan, atau naik sekitar 30 persen.
Sementara itu, Ascend 910C juga mengalami kenaikan harga. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tekanan biaya tidak hanya terjadi pada produk yang belum dirilis, tetapi turut menjalar ke perangkat yang sudah tersedia di pasar.
Cambricon Ikut Naikkan Harga
Huawei bukan satu-satunya produsen yang menghadapi masalah tersebut. Cambricon, salah satu perusahaan chip AI China, juga dikabarkan menaikkan harga produk generasi berikutnya.
Chip yang untuk sementara disebut Cambricon 690 dilaporkan mengalami kenaikan harga sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan level yang ditawarkan kepada pelanggan sekitar dua bulan sebelumnya.
Perusahaan chip China lain seperti MetaX dan Iluvatar CoreX juga disebut melakukan penyesuaian harga serupa. Informasi tersebut berasal dari sumber yang mengetahui pembahasan harga, sementara perusahaan-perusahaan terkait belum memberikan tanggapan resmi terhadap laporan tersebut.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan pasokan HBM mulai memberikan dampak lebih luas terhadap ekosistem chip AI domestik China.
Pasokan HBM Semakin Sulit
Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan akses terhadap HBM canggih. Sejak Amerika Serikat memperketat kontrol ekspor terhadap sejumlah produk HBM tertentu ke China pada Desember 2024, perusahaan China disebut semakin bergantung pada jalur alternatif untuk mendapatkan pasokan.
Menurut sumber Reuters, HBM yang diperoleh melalui jalur pasar abu-abu dapat berharga beberapa kali lipat dibandingkan harga yang dibayar pembeli di luar China. Karena memori menyumbang porsi besar dalam biaya produksi akselerator AI, kenaikan harga komponen tersebut akhirnya diteruskan kepada harga kartu akselerator.
Inilah yang kemudian menciptakan persoalan baru bagi perusahaan China. Mereka memang dapat mengembangkan desain prosesor sendiri, tetapi kemampuan tersebut belum cukup jika komponen pendukungnya sulit diperoleh dalam jumlah dan harga yang kompetitif.
Hambatan bagi Ambisi AI China
China dalam beberapa tahun terakhir mendorong perusahaan teknologi domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk Nvidia. Huawei, Cambricon, MetaX, hingga sejumlah perusahaan lain menjadi bagian dari ekosistem yang berusaha mengembangkan alternatif lokal.
Namun, membangun alternatif Nvidia bukan pekerjaan sederhana. Selain prosesor, perusahaan membutuhkan memori berkecepatan tinggi, teknologi manufaktur, kemasan semikonduktor, sistem interkoneksi, perangkat lunak, serta rantai pasok yang stabil.
Kelangkaan HBM menunjukkan bahwa kemampuan membuat chip saja belum cukup untuk membangun industri AI yang sepenuhnya mandiri.
Kenaikan harga juga berpotensi meningkatkan biaya pembangunan pusat data AI. Perusahaan yang ingin memperluas kapasitas komputasi harus mengeluarkan anggaran lebih besar jika harga akselerator terus meningkat.
Pada saat yang sama, permintaan terhadap komputasi AI terus berkembang karena perusahaan teknologi berlomba menyediakan model bahasa besar, layanan AI generatif, serta aplikasi berbasis AI agent.
China Mulai Bangun Memori Sendiri
Tekanan tersebut juga menjadi alasan mengapa pengembangan industri memori domestik China semakin strategis.
China memiliki perusahaan seperti ChangXin Memory Technologies (CXMT) yang berupaya meningkatkan kapasitas produksi memori. Industri domestik memang masih menghadapi kesenjangan teknologi dibandingkan pemain HBM terdepan dunia, tetapi investasi dan pengembangan kapasitas terus berlangsung.
Laporan industri juga menyebut adanya perkembangan produksi HBM3E dalam skala awal di China dan rencana peningkatan kapasitas pada 2027. Jika kemampuan tersebut berkembang sesuai target, ketergantungan terhadap pasokan luar negeri dapat berkurang secara bertahap.
Namun, membangun kapasitas memori canggih membutuhkan waktu. Produksi HBM bukan sekadar meningkatkan jumlah wafer, melainkan melibatkan proses manufaktur, penumpukan chip memori, packaging, pengujian, dan integrasi dengan prosesor.
Persaingan AI Makin Bergantung pada Memori
Kenaikan harga chip AI China memberikan gambaran bahwa persaingan kecerdasan buatan telah berkembang menjadi persoalan rantai pasok global.
Kemampuan sebuah negara dalam mengembangkan AI kini tidak hanya bergantung pada siapa yang memiliki model paling pintar atau prosesor paling cepat. Ketersediaan memori, kemampuan manufaktur, teknologi packaging, energi, hingga jaringan pusat data semuanya menjadi bagian dari perlombaan.
Bagi China, situasi HBM menjadi tantangan sekaligus dorongan untuk mempercepat kemandirian semikonduktor. Jika perusahaan domestik mampu meningkatkan produksi memori canggih, tekanan biaya dapat berkurang dan produsen chip AI memiliki ruang lebih besar untuk bersaing.
Sebaliknya, jika pasokan tetap terbatas, harga akselerator AI China berpotensi terus berada di level tinggi.
Untuk saat ini, kelangkaan memori menjadi salah satu hambatan paling nyata dalam upaya China membangun alternatif lokal terhadap Nvidia. Chip AI bisa dirancang sendiri, tetapi tanpa memori yang cukup, cepat, dan terjangkau, ambisi tersebut tetap menghadapi batasan besar.



