Dunia game biasanya identik dengan pertarungan, eksplorasi, kemenangan, dan keseruan. Namun, bagi sebagian pemain, pengalaman bermain yang paling membekas justru datang dari cerita yang mampu menguras emosi. Hal tersebut terlihat dalam survei terbaru Dengeki Online di Jepang yang menempatkan Wuthering Waves sebagai salah satu game “sedih” paling direkomendasikan.
Game action RPG besutan Kuro Games tersebut berhasil menempati peringkat ke-10 dalam daftar “naki-ge” atau game yang dianggap mampu membuat pemain menangis maupun terbawa perasaan. Hasil ini cukup menarik karena daftar tersebut didominasi judul-judul yang sejak lama dikenal memiliki cerita emosional.
Survei Dengeki Online digelar pada 26 Juli hingga 16 Agustus 2026. Para pemain Jepang diminta memilih game yang menurut mereka paling layak direkomendasikan sebagai permainan yang mampu menyentuh perasaan. Selain judul game, responden juga diminta memberikan alasan, pengalaman, serta tingkat rekomendasi mereka.
Wuthering Waves Raih Skor Tinggi
Dalam hasil akhir survei tersebut, Wuthering Waves berada di posisi ke-10 dengan rata-rata skor rekomendasi 9,7 poin. Pencapaian tersebut membuat game Kuro Games ini berdiri sejajar dengan sejumlah judul legendaris yang sudah lama dikenal karena kekuatan narasinya.
Menariknya, Wuthering Waves menjadi satu-satunya game yang relatif lebih modern dalam daftar 10 besar tersebut. Sementara itu, posisi teratas justru ditempati oleh game-game yang telah menjadi bagian dari sejarah genre cerita emosional Jepang.
Daftar lengkapnya memperlihatkan CLANNAD berada di posisi pertama. Di bawahnya ada Final Fantasy X, AIR, Summer Pockets, Kemono Teatime, Little Busters!, Okami, Persona 3, dan Final Fantasy XIV.
Keberadaan Wuthering Waves dalam daftar tersebut menunjukkan bahwa game dengan format action RPG dan layanan berkelanjutan juga mampu menghasilkan pengalaman emosional yang kuat.
Cerita Lahai-Roi Jadi Sorotan
Salah satu alasan paling banyak disorot oleh responden berkaitan dengan perkembangan cerita Wuthering Waves, khususnya bagian Lahai-Roi.
Dalam komentar yang dipublikasikan Dengeki Online, sejumlah pemain menilai perkembangan narasi Wuthering Waves semakin kuat seiring hadirnya pembaruan konten. Bahkan, ada pemain yang secara khusus menyebut bagian terbaru dalam cerita tersebut sebagai salah satu bagian yang membuat mereka benar-benar emosional.
Lahai-Roi menjadi pembicaraan tersendiri karena tidak hanya mengandalkan dialog, tetapi juga memadukan visual, musik, karakter, dan penyajian sinematik. Kombinasi tersebut membuat momen tertentu dalam cerita terasa lebih kuat bagi pemain yang sudah mengikuti perjalanan game sejak awal.
Salah satu responden bahkan memberikan nilai sempurna dan menggambarkan penyajian cerita Wuthering Waves layaknya film. Responden lain menilai narasinya memiliki sisi manusiawi yang kuat serta semakin menarik karena didukung kualitas visual yang tinggi.
Hal ini memperlihatkan bahwa alasan sebuah game disebut “sedih” tidak selalu berkaitan dengan akhir cerita yang tragis. Hubungan antarkarakter, kehilangan, perjuangan, serta bagaimana sebuah kisah disampaikan juga dapat membuat pemain terikat secara emosional.
Musik Ikut Memperkuat Emosi
Selain cerita, musik juga menjadi bagian penting dari pengalaman emosional Wuthering Waves.
Salah satu komentar dalam survei Dengeki Online secara khusus menyinggung lagu “Heart of Lahai-Roi”. Bahkan, responden tersebut menyampaikan keinginan agar semua orang dapat mendengarkan lagu tersebut.
Komentar tersebut menunjukkan bagaimana musik dalam video game dapat berkembang menjadi bagian penting dari memori pemain. Ketika sebuah lagu dikaitkan dengan adegan, karakter, atau peristiwa tertentu, musik dapat memunculkan kembali emosi yang dirasakan saat memainkan bagian tersebut.
Pendekatan semacam ini bukan sesuatu yang asing dalam game Jepang. Banyak RPG dan adventure game menggunakan musik sebagai elemen untuk memperkuat suasana cerita. Wuthering Waves tampaknya berhasil memanfaatkan pendekatan tersebut sehingga beberapa pemain menganggap pengalaman naratifnya layak masuk kategori “naki-ge”.
Bukan Sekadar Game Action RPG
Wuthering Waves sejak awal dikenal sebagai action RPG dunia terbuka yang menonjolkan pertarungan cepat dan eksplorasi. Deskripsi resminya juga menekankan narasi, musik, animasi, serta perjalanan Rover dalam mengungkap kembali ingatan dan berbagai misteri di dunia Solaris-3.
Karena itu, masuknya Wuthering Waves ke daftar game sedih menunjukkan adanya perubahan persepsi terhadap identitas game tersebut.
Game ini tidak hanya dinilai dari mekanisme pertarungan atau kualitas grafis. Bagi sebagian pemain, perjalanan karakter dan perkembangan cerita justru menjadi alasan utama mereka terus mengikuti pembaruan.
Hal tersebut juga terlihat dari komentar dalam survei yang menilai Wuthering Waves telah mengalami perkembangan sejak masa awal perilisannya. Responden menyoroti peningkatan pada cerita, model karakter, hingga sistem permainan yang membuat pengalaman bermain semakin lengkap.
Bersaing dengan Game Legendaris
Posisi ke-10 mungkin terlihat sederhana jika hanya dilihat dari angka. Namun, konteks daftar tersebut membuat pencapaian Wuthering Waves menjadi cukup penting.
Wuthering Waves harus bersanding dengan judul seperti Final Fantasy X, Persona 3, Final Fantasy XIV, Okami, hingga CLANNAD. Game-game tersebut telah lama memiliki reputasi sebagai karya dengan cerita yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi pemain.
Sementara itu, Wuthering Waves masih terus berkembang melalui pembaruan konten. Dengan kata lain, posisi tersebut tidak hanya menjadi pengakuan terhadap cerita yang sudah tersedia, tetapi juga menunjukkan bahwa komunitas pemain Jepang melihat potensi besar pada perjalanan narasinya.
Dengeki Online sendiri sebelumnya sudah menampilkan Wuthering Waves dalam hasil sementara survei. Pada tahap tersebut, game ini disebut bersama sejumlah judul yang dikenal karena cerita emosionalnya. Hasil akhir kemudian mengonfirmasi Wuthering Waves sebagai penghuni peringkat ke-10.
Wuthering Waves Semakin Dikenal karena Cerita
Masuknya Wuthering Waves ke 10 besar game “sedih” populer di Jepang menjadi bukti bahwa kekuatan sebuah game tidak hanya terletak pada gameplay.
Cerita yang kuat, karakter yang memiliki sisi manusiawi, visual sinematik, serta musik yang tepat dapat menciptakan pengalaman yang jauh lebih personal bagi pemain. Dalam kasus Wuthering Waves, bagian Lahai-Roi tampaknya menjadi salah satu titik penting yang membuat pengalaman tersebut semakin terasa.
Bagi Kuro Games, respons tersebut juga dapat menjadi modal penting untuk mengembangkan cerita pada pembaruan berikutnya. Jika kualitas narasi terus dipertahankan, bukan tidak mungkin Wuthering Waves semakin dikenal bukan hanya sebagai action RPG dengan pertarungan cepat, tetapi juga sebagai game yang mampu membuat pemain tertawa, terharu, bahkan menangis.
Survei Dengeki Online akhirnya memperlihatkan satu hal menarik: game modern pun bisa mendapatkan tempat di hati pemain lewat cerita yang emosional. Wuthering Waves kini menjadi salah satu contohnya.



